Recently, I’ve been invited by someone to go along with Pestaphoria XL tour in East Java. So there I am, have a tour in Kota ‘mbledag mbledug’. Pertama di Ponorogo, Malang, Blitar.. Aargh.. Jawa kabeh!! Hellooo, kayaknya Kita tinggal di Indonesia deh, terus kenapa tidak ada satu orang pun disini yang berbicara bahasa Indonesia??

XL Pestaphoria J-Rocks
Di kantor juga: everybody talks Javanese. Kalo ini ga heran sih, soalnya team rekrutmen di perusahaan saya sangat semangat mencari karyawan baru dari Jawa sono. Katanya kalo orang Jawa lebih loyal sama Perusahaan dan lebih tough. Jadi ga kutu loncat (kaya anak-anak ITB) hehehe.. Hal ini pun diiyakan oleh tante saya yang saat ini berprofesi sebagai Head Hunter. She likes Student from East Part of Indonesia’s University much more. She said they loyal and (again) tough.
Bahasa Jawa, tidak bisa dipungkiri kemudian menjadi salah satu syarat ‘gaul’ disana. Beruntung pacar saya yang pindah ke Surabaya bisa bahasa Jawa. Hal ini sangat memudahkan dia berkoordinasi dan mendapat ‘tempat’ di kantornya. Sempat ingat waktu saya bekerja di salah satu perusahaan lokal yang sekarang sudah dibeli perusahaan lokal asing. Walaupun wara wiri di Belakang JW Marriot, berkantor pusat di Malang, membuat para GM area di kantor lama saya itu selalu berbahasa Jawa. Berbahasa Jawa sangat memberikan keuntungan dalam bergaul di dalam sana.
*Malu sebagai orang (yang ngaku) berdarah Jawa tapi tidak belum bisa bahasa Jawa*
Tapi heran juga, perasaan berdasarkan karakter ‘mangan ora mangan asal ngumpul’, harusnya orang Jawa ga banyak Mobile tho, beda sama orang Padang yang emg karakaternya saudagar, bertualang. Tapi di dunia industri, saya jauh lebih sering menemukan orang ber-Jawa ria dibandingkan ber-Padang ria. I beg u pardon.
Tapi masuk akal juga sih mengingat Kerajaan Majapahit pernah begitu besarnya. Eh, tapi kan Kerajaan Sriwijaya lebih besar!! Eh?!?
Anyway, Malang cantik banget kayak Bandung, Jalannya kecil dan banyak gedung tuanya. Plus banyak Apel di batu. Ponorogo mirip sama suburb di Jawa Barat. Hehe, target audience nya pun mirip sama audience punya ‘Sejati’, kalau konser di Bekasi
(hehe, did I say Bekasi = suburb?).
Terus yang bikin jatuh cinta adalah semuanya murah meriah. Saya makan baso hanya dengan 3500 rupiah sajah. Mie Jawa di Hotel di Blitar seharga 12000 rupiah sajah. 1 porsi Sate ayam Ponorogo yang bumbunya sangat yummy (warnanya oranye terang tapi rasanya kayak kacang plus lengket2 nikmat gitu) hanya seharga 9000 rupiah sajah. Waooowww.. What a city!!
*muyah muyah muyah* Senang!!

Naik Kuda-kudaan Kayu di depan Warung Bakso

